Selasa, 09 Februari 2021

Bimtek Guru Belajar seri AKM Tahap Tindak Lanjut Laporan Hasil Asesmen Kompetensi Minimum (Materi, Soal dan Referensi Jawaban)

 Adapun materi untuk Bimtek Guru Belajar seri Asesmen Kompetensi Minimum Tahap Tindak Lanjut Laporan Hasil Asesmen Kompetensi Minimum  terdiri sebagai berikut:

  1. Mengidentifikasi 4 Kategori Tingkat Penguasaan Kompetensi
  2. Menjelaskan Perbedaan Pembelajaran Berbasis Kompetensi dengan Berbasis Konten
  3. Analisis Kategori Penguasaan Kompetensi untuk Tindak Lanjut Pembelajaran
  4. Merekomendasikan Strategi Pembelajaran Berdasarkan Hasil Laporan Asesmen Kompetensi Minimum
  5. Contoh Strategi Pembelajaran Berbasis Kompetensi pada Mata Pelajaran
  6. Segitiga Belajar: Kurikulum, Asesmen dan Pembelajaran
  7. Kuis Tindak Lanjut Laporan Hasil Asesmen Nasional
  8. Kuis Tindak Lanjut Laporan Hasil Asesmen Nasional
  9. Perayaan Belajar dan Refleksi Topik 5: Tindak Lanjut Laporan Hasil AKM
  10. Refleksi Topik 5: Tindak Lanjut Laporan Hasil AKM


Mengidentifikasi 4 Kategori Tingkat Penguasaan Kompetensi

Bapak dan Ibu Guru Bimtek Guru Belajar seri AKM SD selaku peserta, pada tahap ini peserta bimtek akan menggali pemahaman mengenai apa yang terjadi setelah Asesmen Kompetensi Minimum dilaksanakan.

Tahap lanjutan setelah pelaksanaan Asesmen Kompetensi Minimum adalah tahap Pelaporan hasil asesmen. Sesuai dengan tujuannya, Asesmen Kompetensi Minimum dirancang untuk memberikan informasi mengenai tingkat kompetensi dasar siswa, berupa kompetensi literasi membaca dan numerasi. 

Dari laporan hasil Asesmen Kompetensi tersebut, satuan pendidikan dapat melihat tingkat penguasaan kompetensi siswanya. Penguasaan kompetensi literasi membaca dan numerasi siswa dikategorikan dalam 4 tingkatan. Untuk lebih memahami penjelasan kompetensi pada setiap kategori, Anda dapat membaca infografik berikut ini:

Tingkat kompetensi tersebut dapat dimanfaatkan guru berbagai mata pelajaran untuk menyusun strategi pembelajaran yang efektif dan berkualitas sesuai dengan tingkat kompetensi siswa. Dengan demikian “Teaching at the right level” dapat diterapkan. Pembelajaran yang dirancang dengan memperhatikan tingkat capaian siswa akan memudahkan siswa menguasai konsep, keterampilan dan konten yang diharapkan pada suatu mata pelajaran. Anda dapat membaca informasi selengkapnya pada tautan berikut ini: AKM dan Implikasinya pada Pembelajaran.

Menjelaskan Perbedaan Pembelajaran Berbasis Kompetensi dengan Berbasis Konten

Laporan hasil Asesmen Kompetensi Minimum yang menunjukan kategori kompetensi dasar sekolah, perlu ditindaklanjuti dengan perubahan strategi pembelajaran. Sejalan dengan tujuan Asesmen Nasional untuk mencapai kompetensi siswa dan peningkatan mutu pendidikan, maka praktik pembelajaran pun sedikit demi demi sedikit perlu berubah dari pembelajaran yang berbasis konten menuju pembelajaran yang berbasis kompetensi. 

Kompetensi diartikan sebagai kemampuan untuk melakukan sesuatu dengan baik, misalnya mampu melakukan tugas atau pekerjaan secara efektif. Kompetensi juga mencakup pengetahuan dan keterampilan yang dibutuhkan untuk menyelesaikan soal, atau bahkan keterampilan yang jauh lebih besar dan lebih beragam. Misalnya memimpin organisasi.

Pada pembelajaran berbasis kompetensi, siswa diharapkan mampu mendemonstrasikan pengetahuan, penguasaan konsep, dan keterampilan dalam dan sebagai proses pembelajaran. Karakteristik utama dari pembelajaran berbasis kompetensi adalah fokusnya pada tingkat penguasaan. Dalam sistem pembelajaran berbasis kompetensi, siswa melakukan pembelajaran sesuai dengan tahapan penguasaan kompetensinya hingga tuntas sebelum akhirnya mampu melanjutkan pada tahap penguasaan kompetensi berikutnya. Sebagai sebuah proses, pembelajaran berbasis kompetensi ini membutuhkan waktu sehingga sedikit demi sedikit siswa menunjukan penguasaan pengetahuan, konsep dan keterampilan untuk memecahkan masalah. Termasuk menunjukan karakter yang ingin dicapai. Bukan sekedar menguasai konten materi pembelajaran semata.

Kekuatan pembelajaran berbasis kompetensi terletak pada fleksibilitasnya karena siswa dapat bergerak dengan kecepatan belajar mereka sendiri. Ini mendukung siswa dengan latar belakang pengetahuan yang beragam, tingkat literasi yang berbeda dan bakat terkait lainnya. Tantangan pembelajaran berbasis kompetensi bagi guru antara lain adalah, kemampuan untuk mengidentifikasi tahapan kompetensi dasar siswa termasuk literasi dan numerasi. Namun laporan hasil AKM dapat membantu memetakan tahapan kompetensi siswa. 

Perbedaan Pembelajaran Berbasis Kompetensi dengan Berbasis Konten



Analisis Kategori Penguasaan Kompetensi untuk Tindak Lanjut Pembelajaran

Tidak semua siswa akan mencapai level mahir dalam waktu yang bersamaan. Akan tetapi setiap usaha dan proses yang dilakukan siswa untuk mencapai level yang lebih tinggi, tentu akan menunjukan peningkatan kinerja siswa. Dimana siswa menjadi lebih fasih dan terampil. Kefasihan mengacu pada kelancaran mereka dalam melakukan pekerjaannya. Siswa menjadi lebih yakin pada kemampuannya jika siswa dapat naik ke level penguasaan yang lebih tinggi. Keterampilan mengacu pada kemampuan untuk beradaptasi dan bereaksi terhadap situasi baru untuk “bergerak dengan cepat” berdasarkan informasi baru. 

Setiap kategori tingkat penguasaan kompetensi, sebagaimana telah dibahas pada aktivitas sebelumnya, tentu memiliki kebutuhan dan pendekatan tersendiri. Sebelum menentukan tindak lanjut yang tepat, Guru perlu menganalisis setiap kategori kompetensi siswanya.

Pada infografik berikut ini, disajikan contoh analisis tingkat kompetensi berdasarkan  kebutuhan, pendekatan, struktur pembelajaran. Penjelasan ini diadaptasi dari penjelasan tahapan penguasaan Marc Rosenberg (2012).

Kategori Kompetensi dan Contoh Analisis

Simak Kategori Kompetensi dan Contoh Analisis berikut ini:
1. Perlu Intervensi Khusus
  • Kebutuhan
    Sebagai pemula siswa biasanya memiliki persyaratan belajar yang sama dan perlu mempelajari keterampilan dan konten yang sama.
  • Struktur Pembelajaran
    Konten pembelajaran untuk pemula yang dan bersifat mendasar. Meskipun demikian kunci pembelajaran terletak pada alur pengajaran yang intensif dan program yang terstruktur.
  • Cara Formal/Informal
    Para pemula membutuhkan strategi belajar yang lebih formal dan instruksional yang memberikan pengalaman dan kesempatan belajar yang serupa kepada semua siswa pemula.
  • Pendekatan
    Training atau pelatihan instensif.
2. Dasar
  • Kebutuhan
    Siswa sudah mulai kompeten dan berusaha untuk mengasah keterampilan mereka saat mereka merasa nyaman.
  • Struktur Pembelajaran
    Pembelajaran untuk siswa dengan tingkat kompeten dasar, masih didorong oleh program yang terstruktur, namun perlu pula mulai memperkenalkan lebih banyak variasi ke dalam desain pembelajaran untuk memenuhi kebutuhan individu yang muncul
  • Cara Formal/Informal
    Mengandalkan program pelatihan yang lebih maju yang mencakup lebih banyak Latihan, simulasi, dan pemecahan masalah
  • Pendekatan
    Coaching, simulasi, dan pemecahan masalah sangat penting untuk meningkatkan kinerja dan tingkat kenyamanansiswa pada tingkat kompetensi dasar.
3. Cakap
  • Kebutuhan
    Siswa dengan tingkat kompetensi cakap memiliki kebutuhan belajar dan persyaratan kinerja yang semakin unik yang seringkali tidak dipenuhi oleh program pembelajaran seperti pada tingkat yang sebenarnya
  • Struktur Pembelajaran
    Konten pembelajaran untuk siswa dengan tingkat kompetensi cakap menjadi lebih personal dan kurang terstruktur. Desain pembelajaran mulai bergeser pada demonstrasi kinerja.
  • Cara Formal/Informal
    Pada tingkat kompetensi cakap, siswa diperkenalkan lebih banyak pada strategi pembelajaran informal. Dalam hal ini konteks lingkungan belajar bertransisi dari ruang kelas ke konteks yang lebih nyata.
  • Pendekatan
    Mengelola pengetahuan yang sudah didapatkan serta memberikan dukungan kinerja pada siswa dengan tingkat kompetensi cakap diperlukan. Pembelajaran social muncul sebagai kesempatan belajar dan kinerja di dalam konteks di luar sekolah.
4. Mahir
  • Kebutuhan
    Siswa yang telah mahir atau bisa disebut pada tahap ahli memiliki kebutuhan pembelajaran dan persyaratan kinerja masing-masing master/pakar cenderung personal dan deskriptif mengenai dirinya sendiri. Unik dan berbeda dengan yang lain.
  • Struktur Pembelajaran
    Strategi dan lingkungan pembelajaran yang disesuaikan tersedia untuk setiap siswa mahir, termasuk peluang untuk melakukan lebih banyak penelitian sevara mandiri dan kolaboratif.
  • Cara Formal/Informal
    Bagi siswa dengan tingkat kompetensi mahir, pembelajaran merupakan aktivitas berbasis teman sebaya, kolaboratif dan sosial. Mereka belajar dari satu sama lain.
  • Pendekatan
    Pembelajaran yang sifatnya kolaboratif adalah kunci bagi siswa mahir. Termasuk pembelajaran yang melibatkan kemampuan untuk belajar melalui inovasi dan proses penemuan. Menjadi guru, mentor, atau pelatih bagi orang lain adalah strategi pembelajaran penting lainnya.

Merekomendasikan Strategi Pembelajaran Berdasarkan Hasil Laporan Asesmen Kompetensi Minimum

Dengan penjelasan dan ilustrasi yang diberikan diharapkan guru dan pemangku kepentingan pendidikan lainnya dapat memperoleh gambaran AKM secara komprehensif. Seperti telah disampaikan dan ditunjukkan, meskipun AKM tidak mengukur secara spesifik capaian belajar pada mata pelajaran, namun pelaporan hasil AKM dapat dimanfaatkan untuk perbaikan proses pembelajaran pada berbagai mata pelajaran. Tentunya dengan didasarkan pada analisis hasil laporan Asesmen Kompetensi Minimum.

Implikasi tingkat kompetensi pada pembelajaran dapat dilihat melalui contoh mata pelajaran IPS berikut ini. Disajikan bacaan berisi materi baru mengenai koperasi: menjelaskan definisi, fungsi, manfaat dan beragam contoh baik. Guru diharapkan menyesuaikan pembelajarannya sesuai tingkat kompetensi murid. Misalnya:
  1. Murid di tingkat Perlu Intervensi Khusus belum mampu memahami isi bacaan, murid hanya mampu membuat interpretasi sederhana. Guru IPS tidak cukup bertumpu pada materi bacaan tersebut. Murid perlu diberi bahan belajar lain secara audio, visual dan pendampingan khusus. 
  2. Murid di tingkat Dasar telah mampu mengambil informasi dari teks, namun tidak memahami secara utuh isi topik koperasi. Murid dapat diberi sumber belajar pendamping dalam bentuk catatan singkat atau simpulan untuk pemahaman yang utuh.
  3. Murid di tingkat Cakap mampu memahami dengan baik isi teks mengenai koperasi, namun belum mampu merefleksi. Murid dapat diberi pembelajaran identifikasi kondisi lingkungan murid, mengaitkan dengan fungsi dan manfaat koperasi. 
  4. Murid di tingkat Mahir mampu memahami isi bacaan dan merefleksi kegunaan koperasi dari teks yang diberikan oleh guru. Guru dapat melakukan pembelajaran berupa menyusun beragam strategi pemanfaatan koperasi.
Untuk melihat contoh-contoh ragam strategi pembelajaran berdasarkan kategori tingkat penguasaan kompetensi, Anda dapat membaca lebih jauh pada tautan berikut ini: AKM dan Implikasinya pada Pembelajaran.

Contoh Strategi Pembelajaran Berbasis Kompetensi pada Mata Pelajaran

Contoh Strategi Pembelajaran Berbasis Kompetensi pada Mata Pelajaran akan memberikan gambaran pada Bapak dan Ibu bagaimana praktik pembelajaran yang berbasis kompetensi. Selain itu contoh berikut ini juga memberikan gambaran bagaimana literasi dan numerasi terintegrasi dalam pembelajaran mata pelajaran.

Contoh Strategi Pembelajaran Berbasis Kompetensi:

  1. Modul Belajar Literasi dan Numerasi . Klik tautan berikut: Modul Literasi dan Numerasi.
  2. Surat Kabar Guru Belajar Edisi Ke-21: Literasi untuk Belajar. Klik tautan berikut: http://bit.ly/skgurubelajar021.

Segitiga Belajar: Kurikulum, Asesmen dan Pembelajaran

Apa sebenarnya peran asesmen dalam peningkatan kualitas pembelajaran murid? Apa keterkaitan antara asesmen, kurikulum dan pembelajaran dalam menyediakan pengalaman belajar murid yang berkualitas?

Asesmen seringkali dipersepsikan sebagai upaya menentukan nilai murid. Tidak heran apabila banyak dari kita yang berusaha keras melakukan upaya agar nilai murid kita setinggi mungkin. Nilai murid menjadi sasaran kinerja. Padahal peran asesmen yang pertama dan utama bukan lah menentukan nilai murid.

Peran pertama dan utama asesmen harus dilihat sebagai bagian dari proses pembelajaran yang utuh. Kerangka yang sering digunakan adalah segitiga belajar yang mengkaitkan antara asesmen, kurikulum dan pembelajaran. Segitiga belajar membantu kita tidak melihat asesmen, kurikulum dan pembelajaran sebagai aspek yang berdiri sendiri. Guru dan pemimpin sekolah dapat melakukan penyelarasan antar 3 aspek yang menentukan pengalaman belajar murid.

Makna Segitiga Belajar



Dalam segitiga belajar, maka makna masing-masing segi adalah sebagai berikut:
  • Kurikulum:
    Seperangkat kompetensi yang penting dikuasai murid dengan menggunakan cara belajar dan asesmen tertentu. Pengembangan kurikulum, selain mengacu pada tantangan dunia nyata, hendaknya mengacu pada hasil asesmen dan refleksi praktik pembelajaran.
  • Pembelajaran:
    Serangkaian aktivitas yang dirancang dan dilakukan di ruang kelas berdasarkan kompetensi awal murid yang diketahui dari hasil asesmen dan untuk mencapai sasaran kompetensi yang ditetapkan dalam kurikulum. Pembelajaran memadukan informasi dari asesmen dengan informasi dari kurikulum. Keseimbangan antara paduan tersebut yang akan menghasilkan pembelajaran yang optimal.
  • Asesmen:
    Proses mengumpulkan, menganalisis dan melaporkan sejumlah informasi yang terkait pencapaian kondisi murid dan penguasaan suatu kompetensi tertentu. Asesmen diagnosis: asesmen di awal untuk merancang strategi pembelajaran. Asesmen formatif: asesmen sepanjang proses belajar untuk melakukan perbaikan dan penyesuaian pembelajaran. Asesmen sumatif: asesmen di akhir untuk menentukan level penguasaan kompetensi oleh murid.

Pemahaman terhadap segitiga belajar akan membawa kita pada kebutuhan membaca laporan Asesmen Kompetensi Minimum dan menggunakannya untuk perbaikan kualitas pembelajaran.

Kuis Tindak Lanjut Laporan Hasil Asesmen Nasional

Bapak Ibu Guru peserta Bimtek Guru Belajar seri AKM SD Tahap Tindak Lanjut Laporan Hasil Asesmen Kompetensi Minimum Tingkat SD dapat mengukur sejauh mana pemahaman dalam menguasai topik ini.

Berikut terdapat  beberapa pernyataan terkait laporan dan rekomendasi hasil Asesmen Nasional. Pada setiap pernyataan tersebut, silahkan Bapak Ibu menentukan apakah pernyataan tersebut benar atau salah.

Soal dan Referensi Jawaban Kuis Tindak Lanjut Laporan Hasil Asesmen Nasional


  1. Pelaporan hasil Asesmen Kompetensi Minimum dirancang untuk memberikan informasi mengenai tingkat kompetensi siswa pada kompetensi dasar literasi membaca dan numerasi pada satuan pendidikan.
    👍Benar
    Salah
  2. Pembelajaran yang dirancang dengan memperhatikan tingkat kompetensi siswa akan memudahkan siswa menguasai konsep, keterampilan dan konten yang diharapkan pada suatu mata pelajaran.
    👍Benar
    Salah
  3. Pada pembelajaran berbasis kompetensi, siswa diharapkan mampu mendemonstrasikan penguasaan konsep, keterampilan dan pengetahuan sebagai proses pembelajaran.
    👍Benar
    Salah
  4. Karakteristik utama dari pembelajaran berbasis kompetensi adalah fokusnya pada capaian hasil akhir berupa nilai.
    Benar
    👍Salah
  5. Tantangan pembelajaran berbasis kompetensi bagi guru semua mata pelajaran antara lain adalah, kemampuan untuk mengidentifikasi tahapan kompetensi dasar siswanya termasuk literasi dan numerasi.
    👍Benar
    Salah
  6. Pembelajaran berbasis konten belajar untuk cakupan materi. Pembelajaran berbasis kompetensi belajar untuk pemahaman konsep dan menerapkan keterampilan.
    👍Benar
    Salah
  7. Laporan hasil Asesmen Kompetensi Minimum dapat menjadi rekomendasi bagi guru-guru dari setiap mata pelajaran untuk memperbaiki atau menyesuaikan strategi pembelajaran yang lebih sesuai dengan tingkat kompetensi yang aktual.
    👍Benar
    Salah
  8. Kompetensi diartikan sebagai kemampuan untuk melakukan suatu kinerja dengan baik, misalnya mampu melakukan tugas atau pekerjaan secara efektif.
    👍Benar
    Salah
  9. Kekuatan pembelajaran berbasis kompetensi terletak pada materi yang telah disediakan.
    Benar
    👍Salah
  10. Sebaiknya semua siswa mencapai level mahir dalam waktu yang bersamaan.
    Benar
    👍Salah

Perayaan Belajar dan Refleksi Topik 5: Tindak Lanjut Laporan Hasil AKM

Pada tahap ini peserta diwajibkan menjawab kuis Refleksi Topik 5: Tindak Lanjut Laporan Hasil AKM agar dapat melanjutkan ke tahap berikutnya.


Soal dan Referensi Jawaban Kuis Refleksi Topik 5: Tindak Lanjut Laporan Hasil AKM

  • Pertanyaan
    Setelah mempelajari laporan hasil Asesmen Kompetensi Minimum, Anda kemudian akan membuat rencana tindak lanjut pada strategi pembelajaran di kelas Anda. Perubahan apa yang akan Anda lakukan di kelas terkait pembelajaran yang berbasis kompetensi?
  • Referensi Jawaban Pertanyaan
    Yaitu dengan menganalisis kemampuan setiap kompetensi peserta didik kemudian mengelompokkannya berdasarkan 4 kategori, antara lain: Perlu Intervensi Khusus, Dasar, Cakap, dan Mahir. Sehingga guru dapat memberikan pembelajaran dengan pendekatan tersendiri sesuai dengan tingkat kemampuan penguasaan kompetensi yang dimiliki peserta didik.

Copy kemudian paste Referensi Jawaban Pertanyaan diatas seperti contoh pada gambar dibawah ini jika menurut Anda sudah sesuai.



Dengan selesainya tahap Perayaan Belajar dan Refleksi Topik 5: Tindak Lanjut Laporan Hasil AKM pada Bimtek Guru Belajar seri AKM Tahap Tindak Lanjut Laporan Hasil Asesmen Kompetensi Minimum  maka pada tahap ini Bapak dan Ibu selaku peserta sudah berhasil menyelesaikan tahap tersebut.

Bapak dan Ibu selaku peserta akan diarahkan ke tahap akhir, yaitu: Asesmen Pasca Program Guru Belajar Seri Asesmen Kompetensi Minimum.

Bimtek Guru Belajar seri AKM Tahap Asesmen Numerasi (Materi, Soal dan Referensi Jawaban)

Adapun materi untuk Bimtek Guru Belajar seri Asesmen Kompetensi Minimum  Tahap Asesmen Numerasi  terdiri sebagai berikut:
  1. Konsep Numerasi
  2. Mengenal Asesmen Kompetensi Minimum Numerasi
  3. Menganalisis Tahap Asesmen Numerasi
  4. Contoh Butir Soal Asesmen Numerasi
  5. Latihan Membuat Soal Asesmen Numerasi
  6. Latihan Membuat Soal Asesmen Numerasi
  7. Perayaan Belajar dan Refleksi Topik 4: Asesmen Numerasi
  8. Refleksi Topik 4: Asesmen Numerasi
Untuk itu simak catatan materi sebelum menuju ke Soal dan Referensi Jawaban Bimtek Guru Belajar seri AKM Tahap Asesmen Numerasi



Konsep Numerasi

Numerasi termasuk dalam kompetensi yang paling mendasar yang ingin dievaluasi dalam Asesmen Kompetensi Minimum.

Numerasi merupakan suatu kompetensi yang mencakup pengetahuan, keterampilan, perilaku, dan disposisi yang dibutuhkan siswa untuk menggunakan matematika dalam cakupan dan situasi yang lebih luas.

Numerasi menuntut siswa untuk mengenali dan memahami peran matematika di dunia, memiliki disposisi dan kapasitas untuk menggunakan pengetahuan dan keterampilan matematika untuk memecahkan masalah dalam kehidupan nyata.

Secara umum kompetensi numerasi ditandai dengan kemampuan seseorang untuk bernalar, mengambil keputusan yang tepat, dan memecahkan masalah. Kemampuan ini dalam penerapannya terkait dengan mata pelajaran lain yang siswa pelajari.

Mengenal Asesmen Kompetensi Minimum Numerasi

Pada topik ini Bapak dan Ibu guru akan mempelajari lebih jauh mengenai Asesmen Numerasi yang berlaku untuk Asesmen Kompetensi Minimum yang akan diberikan pada siswa.

Pada Numerasi, konten dibedakan menjadi empat kelompok, yaitu: Bilangan, Pengukuran dan Geometri, Data dan Ketidakpastian, serta Aljabar.  Kemudian, tingkat proses kognitif menunjukkan proses berpikir yang dituntut atau diperlukan untuk dapat menyelesaikan masalah atau soal. Pada Numerasi, ketiga level tersebut adalah pemahaman, penerapan, dan penalaran.

Sedangkan konteks menunjukkan aspek kehidupan atau situasi untuk konten yang digunakan. Konteks pada AKM dibedakan menjadi tiga, yaitu personal, sosial budaya, dan saintifik.

Simak infografis Komponen AKM Numerasi berikut ini:


Menganalisis Tahap Asesmen Numerasi

Pada jenjang SD/MI terdapat 3 level pembelajaran. Pada level 1 terdapat 3 konten yang dipelajari yakni, bilangan, geometri dan pengukuran serta aljabar. Sedangkan pada level 2-3 terdapat 4 konten yakni, bilangan, geometri dan pengukuran, aljabar, dan data dan ketidak pastian.

Pada level pembelajaran 1 untuk kelas 2, siswa akan belajar merepresentasi, mengurutkan dan operasi penjumlahan dan pengurangan bilangan. Siswa akan mengenal bangun geometri dan pengukurannya. Selain itu siswa juga akan mempelajari persamaan dan pertidaksamaan bilangan serta relasi dan fungsi bilangan. Bapak dan Ibu juga dapat melihat penjelasan yang lebih lengkap melalui link berikut. 🔎 Level Pembelajaran 1 Numerasi.

Pada level pembelajaran 2 untuk kelas 4, siswa akan belajar merepresentasi, mengurutkan dan operasi penjumlahan, pengurangan, pembagian, perkalian dengan bilangan bulat ataupun desimal. Siswa akan mengenal bangun geometri dan pengukurannya. Selain itu siswa juga akan mempelajari persamaan dan pertidaksamaan bilangan, relasi dan fungsi bilangan, juga rasio dan proporsi. Pada level ini siswa juga akan mempelajari data dengan representasinya serta ketidakpastian dan peluang. Bapak dan Ibu juga dapat melihat penjelasan yang lebih lengkap melalui link berikut. 🔎 Level Pembelajaran 2 Numerasi.

Pada level pembelajaran 3 untuk kelas 6, siswa akan belajar merepresentasi, mengurutkan dan operasi penjumlahan, pengurangan, pembagian, perkalian dengan bilangan bulat ataupun desimal. Siswa akan mengenal bangun geometri dan pengukurannya. Selain itu siswa juga akan mempelajari persamaan dan pertidaksamaan bilangan, relasi dan fungsi bilangan, juga rasio dan proporsi. Pada level ini siswa juga akan mempelajari data dengan representasinya. Bapak dan Ibu juga dapat melihat penjelasan yang lebih lengkap melalui link berikut. 🔎 Level Pembelajaran 3 Numerasi.

Contoh Butir Soal Asesmen Numerasi

Pada topik ini, Bapak dan Ibu selaku peserta Bimtek Guru Belajar seri AKM  Tahap Asesmen Numerasi  akan mengenal contoh-contoh butir asesmen numerasi.

Level Pembelajaran 1 Numerasi.

  1. Memahami bilangan cacah (maks tiga angka).
    Simak contoh-contoh soal kompetensi melalui tautan berikut: Contoh-contoh butir soal kompetensi 1 level 1.
  2. Memahami pecahan satuan sederhana (1/2, 1/3, 1/4, 1/5).
    Simak contoh-contoh soal kompetensi melalui tautan berikut: Contoh-contoh butir soal kompetensi 2 level 1.
  3. Mengenal garis bilangan dan mengetahui posisi bilangan cacah pada garis bilangan.
    Simak contoh-contoh soal kompetensi melalui tautan berikut: Contoh-contoh butir soal kompetensi 3 level 1.
  4. Membandingkan dua bilangan cacah (maks. tiga angka).
    Simak contoh-contoh soal kompetensi melalui tautan berikut: Contoh-contoh butir soal kompetensi 4 level 1.
  5. Menghitung hasil penjumlahan/ pengurangan dua bilangan cacah (maks. tiga angka).
    Simak contoh-contoh soal kompetensi melalui tautan berikut: Contoh-contoh butir soal kompetensi 5 level 1.
  6. Menentukan beberapa (maks. 5) kelipatan suatu bilangan cacah n dengan n < 10.
    Simak contoh-contoh soal kompetensi melalui tautan berikut: Contoh-contoh butir soal kompetensi 6 level 1.
  7. Mengenal segi empat, segitiga, segi banyak, dan lingkaran.
    Simak contoh-contoh soal kompetensi melalui tautan berikut: Contoh-contoh butir soal kompetensi 7 level 1.
  8. Mengenal balok dan kubus.
    Simak contoh-contoh soal kompetensi melalui tautan berikut: Contoh-contoh butir soal kompetensi 8 level 1.
  9. Mengenal satuan baku untuk panjang (cm, m), berat (gr, kg), waktu (detik, menit, jam) dan volume (liter).
    Simak contoh-contoh soal kompetensi melalui tautan berikut: Contoh-contoh butir soal kompetensi 9 level 1.
  10. Menyelesaikan persamaan sederhana menggunakan operasi penjumlahan/pengurangan saja (dalam bentuk yang ramah bagi anak).
    Simak contoh-contoh soal kompetensi melalui tautan berikut: Contoh-contoh butir soal kompetensi 10 level 1.
  11. Mengenali pola gambar atau objek.
    Simak contoh-contoh soal kompetensi melalui tautan berikut: Contoh-contoh butir soal kompetensi 11 level 1.

Level Pembelajaran 2 Numerasi untuk kelas 4.

  1. Memahami pecahan dan pecahan campuran positif dengan penyebut bilangan satu atau dua angka (misal 5/12, 2⅗).
    Simak contoh-contoh soal kompetensi melalui tautan berikut: Contoh-contoh butir soal kompetensi 1 level 2.
  2. Mengetahui posisi pecahan pada garis bilangan.
    Simak contoh-contoh soal kompetensi melalui tautan berikut: Contoh-contoh butir soal kompetensi 2 level 2.
  3. Membandingkan dua pecahan, termasuk membandingkan pecahan dan bilangan cacah.
    Simak contoh-contoh soal kompetensi melalui tautan berikut: Contoh-contoh butir soal kompetensi 3 level 2.
  4. Menghitung hasil penjumlahan/pengurangan/perkalian/pembagian dua bilangan cacah (maks. enam angka), termasuk menghitung kuadrat dari suatu bilangan cacah (maks. tiga angka).
    Simak contoh-contoh soal kompetensi melalui tautan berikut: Contoh-contoh butir soal kompetensi 4 level 2.
  5. Menentukan KPK, faktor suatu bilangan cacah, dan FPB.
    Simak contoh-contoh soal kompetensi melalui tautan berikut: Contoh-contoh butir soal kompetensi 5 level 2.
  6. Menghitung luas persegi panjang bila diketahui panjang dan lebarnya, dan menghitung panjang atau lebar bila diketahui luas dan salah satu sisinya.
    Simak contoh-contoh soal kompetensi melalui tautan berikut: Contoh-contoh butir soal kompetensi 6 level 2.
  7. Mengenal prisma dan tabung.
    Simak contoh-contoh soal kompetensi melalui tautan berikut: Contoh-contoh butir soal kompetensi 7 level 2.
  8. Mengenal dan menggunakan satuan luas (cm2, m2) dan volume (cm3, m3).
    Simak contoh-contoh soal kompetensi melalui tautan berikut: Contoh-contoh butir soal kompetensi 8 level 2.
  9. Menyelesaikan persamaan sederhana menggunakan operasi perkalian/pembagian saja.
    Simak contoh-contoh soal kompetensi melalui tautan berikut: Contoh-contoh butir soal kompetensi 9 level 2.
  10. Mengenali pola bilangan sederhana dan melanjutkan pola tersebut.
    Simak contoh-contoh soal kompetensi melalui tautan berikut: Contoh-contoh butir soal kompetensi 10 level 2.
  11. Memahami cara penyajian data sederhana (menggunakan turus dan diagram gambar).
    Simak contoh-contoh soal kompetensi melalui tautan berikut: Contoh-contoh butir soal kompetensi 11 level 2.
  12. Menentukan kejadian yang lebih mungkin di antara beberapa kejadian.
    Simak contoh-contoh soal kompetensi melalui tautan berikut: Contoh-contoh butir soal kompetensi 12 level 2.

Level Pembelajaran 3 Numerasi untuk kelas 6.

  1. Memahami bilangan bulat, khususnya bilangan bulat negatif.
    Simak contoh-contoh soal kompetensi melalui tautan berikut: Contoh-contoh butir soal kompetensi 1 level 3.
  2. Menyatakan bilangan desimal dengan dua angka di belakang koma dan persentase dalam bentuk pecahan, atau sebaliknya.
    Simak contoh-contoh soal kompetensi melalui tautan berikut: Contoh-contoh butir soal kompetensi 2 level 3.
  3. Mengetahui posisi bilangan desimal dengan dua angka di belakang koma pada garis bilangan serta posisi bilangan bulat termasuk bilangan bulat negatif.
    Simak contoh-contoh soal kompetensi melalui tautan berikut: Contoh-contoh butir soal kompetensi 3 level 3.
  4. Mengurutkan beberapa bilangan yang dinyatakan dalam bentuk berbeda.
    Simak contoh-contoh soal kompetensi melalui tautan berikut: Contoh-contoh butir soal kompetensi 4 level 3.
  5. Menghitung hasil pengoperasian pecahan atau bilangan desimal, termasuk menghitung kuadrat dan kubik dari suatu bilangan desimal dengan satu angka di belakang koma serta operasi bilangan bulat termasuk bilangan bulat negatif.
    Simak contoh-contoh soal kompetensi melalui tautan berikut: Contoh-contoh butir soal kompetensi 5 level 3.
  6. Menghitung luas bangun datar.
    Simak contoh-contoh soal kompetensi melalui tautan berikut: Contoh-contoh butir soal kompetensi 6 level 3.
  7. Mengenal limas, kerucut, dan bola.
    Simak contoh-contoh soal kompetensi melalui tautan berikut: Contoh-contoh butir soal kompetensi 7 level 3.
  8. Mengenal dan menggunakan satuan kecepatan dan debit.
    Simak contoh-contoh soal kompetensi melalui tautan berikut: Contoh-contoh butir soal kompetensi 8 level 3.
  9. Menyelesaikan persamaan linier 1 variabel.
    Simak contoh-contoh soal kompetensi melalui tautan berikut: Contoh-contoh butir soal kompetensi 9 level 3.
  10. Menentukan suku ke-n pada suatu pola bilangan sederhana.
    Simak contoh-contoh soal kompetensi melalui tautan berikut: Contoh-contoh butir soal kompetensi 10 level 3.
  11. Menggunakan rasio/skala untuk menentukan nilai/bilangan yang tidak diketahui.
    Simak contoh-contoh soal kompetensi melalui tautan berikut: Contoh-contoh butir soal kompetensi 11 level 3.
  12. Membaca data yang disajikan dalam bentuk tabel, diagram batang, dan diagram lingkaran.
    Simak contoh-contoh soal kompetensi melalui tautan berikut: Contoh-contoh butir soal kompetensi 12 level 3.

Latihan Membuat Soal Asesmen Numerasi

Dari penjelasan pada aktivitas-aktivitas diatas, dapat disimpulkan bahwa butir-butir soal asesmen numerasi AKM melibatkan proses penalaran yang tidak dapat dipersiapkan melalui program bimbingan belajar intensif yang berfokus pada latihan-latihan soal saja.

Proses penalaran siswa justru perlu lebih banyak dikembangkan dan dipupuk melalui strategi pembelajaran di kelas.

Soal dan Referensi Jawaban Latihan Membuat Soal Asesmen Numerasi

Pada aktivitas ini, Bapak dan Ibu akan berlatih membuat butir soal numerasi yang akan membantu siswa Anda untuk berlatih menggunakan kompetensi numerasi untuk bernalar dalam pembelajaran di kelas.
  1. Pertama, pahami kompetensi numerasi siswa yang Anda ampu. Dari situ Anda dapat memilih kasus yang sesuai. Misalnya, dari kedua gambar berikut ini manakah yang paling sesuai dengan level yang anda ampu, Apakah gambar 1, atau gambar 2? Jelaskan.
  2. Kedua, setelah memilih kasus sesuai dengan level kompetensi siswa yang Anda ampu, pilihlah salah satu kompetensi yang ingin Anda kembangkan dan evaluasi. 
  3. Ketiga, dari kompetensi numerasi tersebut, cobalah membuat 3 buah soal dengan bentuk yang berbeda-beda berdasarkan gambar yang Anda pilih tadi.
Pertanyaan-pertanyaan yang dikembangkan atas dasar kompetensi, bukan hafalan materi semata, memberikan kesempatan pada siswa untuk terus mengembangkan kemampuan dasar numerasinya dalam penalaran.
  • Pertanyaan
    Sekarang Bapak dan Ibu dapat menuliskan contoh soal yang telah dibuat pada kuis berikut ini.
  • Referensi Jawaban Pertanyaan
    Desi ingin mengambil beberapa kartu bilangan yang nilai angka satuannya lebih kecil dari 5. Kartu-kartu apa saja yang dapat diambil oleh Desi?

Copy kemudian paste Referensi Jawaban Pertanyaan seperti contoh pada gambar dibawah ini.


Perayaan Belajar dan Refleksi Topik 4: Asesmen Numerasi

Pada tahap ini peserta diwajibkan menjawab kuis Refleksi Topik 4: Asesmen Numerasi agar dapat melanjutkan ke tahap selanjutnya.

Soal dan Referensi Jawaban kuis Refleksi Topik 4: Asesmen Numerasi

  • Pertanyaan
    Menurut Anda, apa informasi penting yang Anda peroleh setelah mempelajari materi pada topik Butir Soal Asesmen Numerasi Pendidikan Dasar? Apakah komptensi numerasi cukup dikembangkan dengan banyaknya latihan soal matematika? Silakan tulis refleksi Anda pada kolom yang tersedia
  • Referensi Jawaban Pertanyaan
    Menurut Anda, apa informasi penting yang Anda peroleh setelah mempelajari materi pada topik Butir Soal Asesmen Numerasi Pendidikan Dasar?
    Jawab: Siswa dapat mengenali dan memahami peran matematika di dunia, memiliki disposisi dan kapasitas untuk menggunakan pengetahuan dan keterampilan matematika untuk memecahkan masalah dalam kehidupan nyata.

    Apakah komptensi numerasi cukup dikembangkan dengan banyaknya latihan soal matematika?
    Jawab: Tidak. Kompetensi numerasi ditandai dengan kemampuan seseorang untuk bernalar, mengambil keputusan yang tepat, dan memecahkan masalah. Kemampuan ini dalam penerapannya terkait dengan mata pelajaran lain yang siswa pelajari.

Copy kemudian paste Referensi Jawaban Pertanyaan seperti contoh pada gambar dibawah ini jika menurut Anda sudah sesuai sebagaimana pada gambar berikut ini.



Dengan selesainya tahap Perayaan Belajar dan Refleksi Topik 4: Asesmen Numerasi pada  Bimtek Guru Belajar seri AKM Tahap Asesmen Numerasi , maka pada tahap ini Bapak dan Ibu selaku peserta sudah berhasil menyelesaikan tahap tersebut.


seri AKM Tahap Asesmen Literasi Membaca (Materi, Soal dan Referensi Jawaban)

Adapun materi untuk Bimtek Guru Belajar seri Asesmen Kompetensi Minimum  Tahap Asesmen Literasi Membaca  terdiri sebagai berikut:
  1. Konsep Literasi Membaca
  2. Mengenal Asesmen Kompetensi Minimum Literasi Membaca
  3. Menganalisis Tahap Asesmen Literasi Membaca
  4. Contoh Butir Soal Asesmen Literasi Membaca
  5. Latihan Membuat Soal Asesmen Literasi
  6. Latihan Membuat Soal Asesmen Literasi
  7. Perayaan Belajar dan Refleksi Topik 3: Asesmen Literasi Membaca
  8. Refleksi Topik 3: Asesmen Literasi Membaca

Untuk itu simak catatan materi sebelum menuju ke Soal dan Referensi Jawaban Bimtek Guru Belajar seri AKM SD Tahap Asesmen Literasi Membaca Tingkat SD.



Konsep Literasi Membaca

Literasi membaca termasuk dalam kompetensi yang paling mendasar yang ingin dievaluasi dalam Asesmen Kompetensi Minimum. Sebelum membahas lebih jauh mengenai asesmen Literasi membaca dalam AKM, Bapak dan Ibu perlu meninjau kembali apa yang dimaksud dengan literasi membaca dan menulis. 

Literasi baca dan tulis adalah pengetahuan dan kecakapan untuk membaca, menulis, mencari, menelusuri, mengolah, dan memahami informasi untuk menganalisis, menanggapi, dan menggunakan teks tertulis untuk mencapai tujuan, mengembangkan pemahaman dan potensi, serta untuk berpartisipasi di lingkungan sosial.

Literasi membaca dan menulis, tidak seperti sebutannya, mencakup kemampuan yang lebih dari sekedar mampu mengeja kalimat dan menuliskannya. Literasi membaca dan menulis, perlu dikembangkan untuk mendapatkan pemahaman yang lebih bermakna terkait berbagai cakupan dan konteks kehidupan. Di dalam lingkungan satuan pendidikan, kompetensi literasi yang terus berkembang memungkinkan siswa untuk dapat menggunakannya dalam berbagai mata pelajaran.

Mengenal Asesmen Kompetensi Minimum Literasi Membaca



Asesmen Kompetensi Minimum merupakan penilaian kompetensi mendasar yang diperlukan oleh semua siswa untuk mampu mengembangkan kapasitas diri dan berpartisipasi positif pada masyarakat. Terdapat dua kompetensi mendasar yang diukur AKM, yaitu literasi membaca dan numerasi. 

Pada topik ini, Bapak dan Ibu guru akan mempelajari lebih jauh mengenai Asesmen Literasi Membaca yang berlaku untuk Asesmen Kompetensi Minimum yang akan diberikan pada siswa. Dalam penilaiannya asesmen literasi membaca tidak hanya mengukur topik atau konten tertentu tetapi berbagai konten, berbagai konteks dan pada beberapa tingkat proses kognitif. 

Konten pada Literasi Membaca menunjukkan jenis teks yang digunakan, dalam hal ini dibedakan dalam dua kelompok yaitu teks informasi dan teks fiksi. Kemudian, tingkat proses kognitif menunjukkan proses berpikir yang dituntut atau diperlukan untuk dapat menyelesaikan masalah atau soal. Pada Literasi Membaca, level tersebut adalah menemukan informasi, interpretasi dan integrasi serta evaluasi dan refleksi. Sedangkan konteks menunjukkan aspek kehidupan atau situasi untuk konten yang digunakan. Konteks pada AKM dibedakan menjadi tiga, yaitu personal, sosial budaya, dan saintifik.

Menganalisis Tahap Asesmen Literasi Membaca

Pada level pembelajaran 1 untuk kelas 1 dan 2, siswa akan menemukan informasi dengan cara mengakses dan mencari informasi dalam teks. Selain itu siswa akan memahami teks secara literal, kemudian menyusun inferensi, membuat koneksi dan prediksi baik teks tunggal maupun teks jamak. Siswa juga akan mengevaluasi dan merefleksi dengan menilai format penyajian dalam teks. Bapak dan Ibu juga dapat melihat penjelasan yang lebih lengkap melalui link Level Pembelajaran 1 Literasi Membaca Teks Fiksi dan Level Pembelajaran 1 Literasi Membaca Teks Informasi.

Pada level pembelajaran 2 untuk kelas 3 dan 4, sama seperti level pembelajaran 1 siswa juga akan belajar sesuai tingkat kognitif pada literasi membaca hanya saja siswa pada kelas 3 dan 4 akan menggunakan konten yang sesuai dengan jenjangnya. Siswa akan mengevaluasi menilai format penyajian dalam teks, selain itu siswa juga merefleksi isi wacana untuk pengambilan keputusan, menetapkan pilihan, dan mengaitkan isi teks terhadap pengalaman pribadi.  Bapak dan Ibu juga dapat melihat penjelasan yang lebih lengkap melalui link Level Pembelajaran 2 Literasi Membaca Teks Fiksi dan Level Pembelajaran 2 Literasi Membaca Teks Informasi.

Pada level pembelajaran 3 untuk kelas 5 dan 6, sama seperti level pembelajaran 2 siswa juga akan belajar sesuai tingkat kognitif pada literasi membaca hanya saja siswa pada kelas 5 dan 6 akan menggunakan konten yang sesuai dengan jenjangnya. Bapak dan Ibu juga dapat melihat penjelasan yang lebih lengkap melalui link Level Pembelajaran 3 Literasi Membaca Teks Fiksi dan Level Pembelajaran 3 Literasi Membaca Teks Informasi.

Contoh Butir Soal Asesmen Literasi Membaca

Pada topik ini, Bapak dan Ibu akan mengenal contoh-contoh butir asesmen literasi membaca teks fiksi dan juga teks informasi



Berikut ini merupakan contoh-contoh soal kompetensi, simak pada tautan-tautan berikut:
  1. Contoh-Contoh Butir Soal Kompetensi Level 1
  2. Contoh-Contoh Soal Kompetensi Level 2
  3. Contoh-contoh soal kompetensi 3 Level 1
  4. Contoh-contoh soal kompetensi 4 Level 1
  5. Contoh-contoh soal kompetensi 5 Level 1
  6. Contoh-contoh butir soal kompetensi 1 level 1
  7. Contoh-contoh butir soal kompetensi 2 level 1
  8. Contoh-contoh butir soal kompetensi 3 level 1
  9. Contoh-contoh butir soal kompetensi 4 level 1
  10. Contoh-contoh butir soal kompetensi 5 level 1
  11. Contoh-contoh butir soal kompetensi 1 level 2
  12. Contoh-contoh butir soal kompetensi 2 level 2
  13. Contoh-contoh butir soal kompetensi 3 level 2
  14. Contoh-contoh butir soal kompetensi 4 level 2
  15. Contoh-contoh butir soal kompetensi 5 level 2
  16. Contoh-contoh butir soal kompetensi 6 level 2
  17. Contoh-contoh butir soal kompetensi 7 level 2
  18. Contoh-contoh butir soal kompetensi 1 level 2
  19. Contoh-contoh butir soal kompetensi 2 level 2
  20. Contoh-contoh butir soal kompetensi 3 level 2
  21. Contoh-contoh butir soal kompetensi 4 level 2
  22. Contoh-contoh butir soal kompetensi 5 level 2
  23. Contoh-contoh butir soal kompetensi 6 level 2
  24. Contoh-contoh butir soal kompetensi 1 level 3
  25. Contoh-contoh butir soal kompetensi 2 level 3
  26. Contoh-contoh butir soal kompetensi 3 level 3
  27. Contoh-contoh butir soal kompetensi 4 level 3
  28. Contoh-contoh butir soal kompetensi 5 level 3
  29. Contoh-contoh butir soal kompetensi 6 level 3
  30. Contoh-contoh butir soal kompetensi 1 level 3
  31. Contoh-contoh butir soal kompetensi 2 level 3
  32. Contoh-contoh butir soal kompetensi 3 level 3
  33. Contoh-contoh butir soal kompetensi 4 level 3
  34. Contoh-contoh butir soal kompetensi 5 level 3
  35. Contoh-contoh butir soal kompetensi 6 level 3

Latihan Membuat Soal Asesmen Literasi

Dari penjelasan pada aktivitas-aktivitas sebelumnya, dapat disimpulkan bahwa butir-butir soal asesmen literasi AKM melibatkan proses penalaran yang tidak dapat dipersiapkan melalui program bimbingan belajar intensif yang berfokus pada latihan-latihan soal saja. Proses penalaran siswa justru perlu lebih banyak dikembangkan dan dipupuk melalui strategi pembelajaran di kelas.

Pertanyaan-pertanyaan yang dikembangkan atas dasar kompetensi, bukan hafalan materi semata, memberikan kesempatan pada siswa untuk terus mengembangkan kemampuan dasar literasinya dalam penalaran. Kompetensi literasi sendiri tidak dapat berkembang dengan baik dengan hanya melalui latihan soal. Namun diperlukan strategi pembelajaran yang lebih berbasis kompetensi.

Referensi Jawaban Latihan Membuat Soal Asesmen Literasi Tingkat SD



Pertanyaan

Teks bacaan mana yang Anda pilih. Mengapa? Kompetensi literasi apa yang ingin Anda ukur? Silakan menuliskan 3 butir soal yang telah Anda buat disini.
Referensi Jawaban
  • Teks bacaan mana yang Anda pilih. Mengapa?
    Teks fiksi untuk pembelajaran level 1 kelas 1 dan 2.
    Melalui teks tersebut, dapat mengukur beberapa kompetensi yang dilatihkan.
  • Kompetensi literasi apa yang ingin Anda ukur?
    Menemukan informasi tersurat pada teks sastra atau teks informasi yang terus meningkat sesuai jenjangnya.
  • Silakan menuliskan 3 butir soal yang telah Anda buat disini.
    Contoh soal:
    (1) Hewan apa yang Sukma dan Trisna tangkap? (2) Bagaimana perasaan Sukma dan Trisna setelah menyelesaikan tugas dari Bu guru? (3) Apa kegiatan Sukma dan Trisna sebelum pergi ke lapangan untuk mencari serangga?

Perayaan Belajar dan Refleksi Topik 3: Asesmen Literasi Membaca

Pada tahap ini peserta diminta untuk menulis hasil dari refleksi atas materi yang disampakian.

Simak Referensi Jawaban Refleksi Topik 3: Asesmen Literasi Membaca



Pertanyaan
Apa yang Anda pelajari dari pembelajaran mengenai contoh butir soal literasi membaca pada Asesmen Kompetensi Dasar? Apakah Anda setuju bahwa kompetensi literasi tidak dapat dikembangkan hanya melalui latihan soal ujian?
Referensi Jawaban Refleksi
  • Apa yang Anda pelajari dari pembelajaran mengenai contoh butir soal literasi membaca pada Asesmen Kompetensi Dasar?
    Jawab: Bapak dan Ibu Guru selaku Peserta mengenal contoh-contoh butir asesmen literasi membaca teks fiksi dan juga teks informasi untuk mengukur beberapa kompetensi yang dilatihkan tingkat SD.
  • Apakah Anda setuju bahwa kompetensi literasi tidak dapat dikembangkan hanya melalui latihan soal ujian?
    Jawab: Setuju.

Bimtek Guru Belajar seri AKM Teknis Pelaksanaan Asesmen Nasional (Materi, Soal dan Referensi Jawaban)


Adapun materi untuk Bimtek Guru Belajar seri Asesmen Kompetensi Minimum Tahap Teknis Pelaksanaan Asesmen Nasional terdiri sebagai berikut:
  1. Petunjuk dan Teknis Pelaksanaan Asesmen Nasional
  2. Kriteria Peserta Pelaksana Asesmen Nasional
  3. Merumuskan Butir Soal Asesmen Nasional
  4. Kuis Teknis Pelaksanaan Asesmen Nasional
  5. Kuis Teknis Pelaksanaan Asesmen Nasional
  6. Perayaan Belajar dan Refleksi Topik 2: Teknis Pelaksanaan AN
  7. Refleksi Topik 2: Teknis Pelaksanaan AN


Untuk itu simak catatan materi sebelum menuju ke Soal dan Referensi Jawaban Bimtek Guru Belajar seri AKM Tahap Teknis Pelaksanaan Asesmen Nasional.

Petunjuk dan Teknis Pelaksanaan Asesmen Nasional

Asesmen Nasional

Asesmen Nasional adalah program penilaian terhadap mutu setiap sekolah, madrasah, dan program kesetaraan pada jenjang dasar dan menengah.

Unsur utama dari Asesmen Nasional, yaitu:
  1. Asesmen Kompetensi Minimum (AKM).
  2. Survei Karakter, dan
  3. Survei Lingkungan Belajar.
Asesmen Kompetensi Minimum (AKM) terbagi menjadi 2 (dua) yaitu Asesmen Literasi Membaca dan Asesmen Numerasi.
Untuk Asesmen Literasi Membaca mencakup empat poin, antara lain: Memahami, Menggunakan, Mengevaluasi dan Merefleksi.
Sedangkan untuk Asesmen Numerasi terdapat tiga poin, antara lain: Memahami, Mengaplikasi dan Bernalar.

Survei Karakter yang mengukur sikap, nilai, keyakinan, dan kebiasaan yang mencerminkan karakter siswa.

Survei Lingkungan Belajar yang mengukur kualitas berbagai aspek input dan proses belajar-mengajar di kelas maupun di tingkat sekolah.

Teknis Pelaksanaan Asesmen Nasional

Secara teknis Pelaksanaan Asesmen Nasional dilaksanakan Berbasis Komputer dan Bersifat Adaptif, yaitu pertanyaan yang disajikan bergantung pada kemampuan siswa.

Peserta Asesmen Nasional

Peserta Asesmen Nasional atau AN yaitu:
  1. Seluruh satuan pendidikan.
  2. Tidak semua murid.
  3. Pemilihan sampel secara acak.

Jadwal Pelaksanaan Asesmen Nasional Berdasarkan Jenjang

Jenjang pelaksanaan Asesmen Nasional ini terdiri dari SD/MI dan Paket A/ULA, SMP/MTs dan Paket B/Wustha, SMA/SMK/MA dan Paket C/Ulya.

Pelaksanaan Asesmen Nasional dilaksanakan selama 2 hari, untuk informasi lebih lanjut simak jadwal pelaksanaan berikut.


Kriteria Peserta Pelaksana Asesmen Nasional



Asesmen Nasional akan diikuti oleh seluruh satuan pendidikan tingkat dasar dan menengah di Indonesia, serta program kesetaraan yang dikelola oleh PKBM. Di tiap satuan pendidikan, Asesmen Nasional akan diikuti oleh sebagian peserta didik kelas V, VIII, dan XI yang dipilih secara acak oleh Pemerintah. Untuk program kesetaraan, Asesmen Nasional akan diikuti oleh seluruh peserta didik yang berada pada tahap akhir tingkat 2, tingkat 4 dan tingkat 6 program kesetaraan.

Mengapa Asesmen Nasional hanya diikuti oleh sebagian siswa? 

Hal ini terkait dengan tujuan dan fungsi Asesmen Nasional. Asesmen Nasional tidak digunakan untuk menentukan kelulusan menilai prestasi siswa sebagai seorang individu. Evaluasi hasil belajar setiap individu siswa menjadi kewenangan pendidik. Pemerintah melalui Asesmen Nasional melakukan evaluasi sistem. Asesmen Nasional merupakan cara untuk memotret dan memetakan mutu sekolah dan sistem pendidikan secara keseluruhan. Karena itu, tidak semua siswa perlu menjadi peserta dalam Asesmen Nasional. Yang diperlukan adalah informasi dari sampel yang mewakili populasi siswa di setiap sekolah pada jenjang kelas yang menjadi target dari Asesmen Nasional.

Mengapa yang menjadi sampel adalah siswa kelas V, VIII dan XI? 

Hasil Asesmen Nasional diharapkan menjadi dasar dilakukannya perbaikan pembelajaran. Pemilihan jenjang kelas V, VIII dan XI dimaksudkan agar siswa yang menjadi peserta Asesmen Nasional dapat merasakan perbaikan pembelajaran ketika mereka masih berada di sekolah tersebut. Selain itu, Asesmen Nasional juga digunakan untuk memotret dampak dari proses pembelajaran di setiap satuan pendidikan. Murid kelas V,VIII, dan XI telah mengalami proses pembelajaran di sekolahnya, sehingga sekolah dapat dikatakan telah berkontribusi pada hasil belajar yang diukur dalam Asesmen Nasional. 

Perlu diketahui, selain peserta didik, Asesmen Nasional juga akan diikuti oleh semua guru dan kepala sekolah di setiap satuan pendidikan. Informasi dari peserta didik, guru, dan kepala sekolah diharapkan memberi informasi yang lengkap tentang kualitas proses dan hasil belajar di setiap satuan pendidikan. Sementara Asesmen Kompetensi Minimum untuk pendidikan kesetaraan berfungsi sebagai ujian kesetaraan.

Merumuskan Butir Soal Asesmen Nasional

Butir soal dalam Asesmen Nasional ini ada khususnya pada Asesmen Kompetensi Minimum (AKM) yang mencakup asesmen kompetensi mendasar, yaitu literasi membaca dan asesmen kompetensi numerasi.

Bentuk Soal Asesmen Nasional pada Asesmen Kompetensi Minimum

Bentuk soal Asesmen Nasional AKM, terdiri dari pilihan ganda, pilihan ganda kompleks, menjodohkan, isian singkat dan uraian.
  1. Pilihan ganda, siswa hanya dapat memilih satu jawaban benar dalam satu soal. 
  2. Pilihan ganda kompleks, siswa dapat memilih lebih dari satu jawaban benar dalam satu
  3. Menjodohkan, siswa menjawab dengan dengan cara menarik garis dari satu titik ke titik lainnya yang merupakan pasangan pertanyaan dengan jawabannya.
  4. Isian singkat, siswa dapat menjawab berupa bilangan, kata untuk menyebutkan nama benda, tempat, atau jawaban pasti lainnya. 
  5. Uraian, siswa menjawab soal berupa kalimat-kalimat untuk menjelaskan jawabannya.
Murid kelas V akan mengerjakan 30 butir soal untuk mengukur kompetensi literasi membaca dan 30 butir soal untuk mengukur kompetensi numerasi. Sedangkan siswa kelas VIII dan XI akan mengerjakan 36 butir soal untuk mengukur kompetensi literasi membaca dan 36 butir soal untuk mengukur kompetensi numerasi.

AKM dilaksanakan secara adaptif, sehingga setiap siswa akan menempuh soal yang sesuai dengan tingkat kemampuan siswa itu sendiri. AKM mengukur kompetensi mendasar yang perlu dipelajari semua siswa tanpa membedakan peminatannya. Oleh karena itu seluruh siswa akan mendapat soal yang mengukur kompetensi yang sama. Keunikan konteks beragam materi kurikulum lintas mata pelajaran dan peminatan tercermin dalam ragam stimulus soal-soal AKM.

AKM disusun berdasarkan indikator-indikator kompetensi yang membentuk lintasan kompetensi hasil belajar yang bersifat kontinum.

Bapak dan Ibu Peserta, Pusat Asesmen dan Pembelajaran Kemdikbud menyediakan contoh soal AKM pada laman: https://pusmenjar.kemdikbud.go.id/akm klik tautan untuk melihat contoh-contoh soal.

Soal dan Referensi Jawaban Kuis Teknis Pelaksanaan Asesmen Nasional


Berikut ini terdapat  beberapa pernyataan benar atau salah. Peserta dianjurkan untuk memilih pernyataan yang benar.
  1. Bentuk soal AN adalah pilihan ganda, pilihan ganda kompleks, isian singkat, uraian dan menjodohkan.
    👍Benar
    Salah
  2. Bentuk soal dalam Asesmen Kompetensi Minimum merupakan bentuk soal yang tidak dapat diselesaikan dengan mengandalkan hafalan.
    👍Benar
    Salah
  3. Pelaksanaan Asesmen Nasional terdiri dari tes literasi dan tes numerasi.
    Benar
    👍Salah
  4. AKM dilaksanakan secara adaptif artinya siswa bebas memilih topik dan tingkat kesulitan soal.
    Benar
    👍Salah
  5. Kepala sekolah dan guru juga akan mengikuti Asesmen Nasional.
    👍Benar
    Salah
  6. Asesmen Nasional tidak dilakukan pada jenjang Pendidikan Anak Usia Dini
    👍Benar
    Salah
  7. Asesmen Nasional tidak digunakan untuk menentukan kelulusan menilai prestasi siswa sebagai seorang individu.
    👍Benar
    Salah
  8. Asesmen Kompetensi Minimum diberikan pada siswa ditengah jenjang pendidikan bukan di akhir. Dengan demikian siswa masih memiliki kesempatan untuk memperbaiki capaian kompetensinya.
    👍Benar
    Salah
  9. Keunikan konteks beragam materi kurikulum lintas mata pelajaran dan peminatan tercermin dalam ragam stimulus soal-soal AKM.
    👍Benar
    Salah
  10. Asesmen Kompetensi Minimum disusun berdasarkan indikator-indikator kompetensi yang membentuk lintasan kompetensi.
    👍Benar
    Salah

Soal dan Referensi Jawaban Perayaan Belajar dan Refleksi Topik 2: Teknis Pelaksanaan AN

Topik berikutnya yaitu Perayaan Belajar dan Refleksi Topik 2: Teknis Pelaksanaan AN (Asesmen Nasional).

Pada tahap ini peserta diminta untuk memberikan tanggapan berdasarkan soal berupa pertanyaan Perayaan Belajar dan Refleksi Topik 2: Teknis Pelaksanaan AN yang terdiri dari beberapa pertanyaan.
  • Simak Soal
    Menurut Anda, apa informasi penting yang Anda peroleh setelah mempelajari materi pada topik pelaksanaan Asesmen Nasional? Silakan tulis refleksi Anda pada kolom yang tersedia.
  • Referensi Jawaban
    Asesmen Nasional akan diikuti oleh seluruh satuan pendidikan tingkat dasar dan menengah di Indonesia, serta program kesetaraan yang dikelola oleh PKBM. Di tiap satuan pendidikan, Asesmen Nasional akan diikuti oleh sebagian peserta didik kelas V, VIII, dan XI yang dipilih secara acak oleh Pemerintah. Untuk program kesetaraan, Asesmen Nasional akan diikuti oleh seluruh peserta didik yang berada pada tahap akhir tingkat 2, tingkat 4 dan tingkat 6 program kesetaraan.

    Secara Teknis Pelaksanaan Asesmen Nasional dilaksanakan Berbasis Komputer dan Bersifat Adaptif, yaitu pertanyaan yang disajikan bergantung pada kemampuan siswa.

    Bentuk soal Asesmen Nasional AKM, terdiri dari pilihan ganda, pilihan ganda kompleks, menjodohkan, isian singkat dan uraian. (a) Siswa hanya dapat memilih satu jawaban benar dalam satu soal, (b) Siswa dapat memilih lebih dari satu jawaban benar dalam satu, (c) Siswa menjawab dengan dengan cara menarik garis dari satu titik ke titik lainnya yang merupakan pasangan pertanyaan dengan jawabannya, (d) Siswa dapat menjawab berupa bilangan, kata untuk menyebutkan nama benda, tempat, atau jawaban pasti lainnya, (e) Siswa menjawab soal berupa kalimat-kalimat untuk menjelaskan jawabannya.

    Peserta Asesmen Nasional atau AN yaitu: Seluruh satuan pendidikan, Tidak semua murid, dan Pemilihan peserta berupa sampel secara acak. Jenjang pelaksanaan Asesmen Nasional ini terdiri dari SD/MI dan Paket A/ULA, SMP/MTs dan Paket B/Wustha, SMA/SMK/MA dan Paket C/Ulya. Pelaksanaan Asesmen Nasional dilaksanakan selama 2 hari.

    Hasil Asesmen Nasional diharapkan menjadi dasar dilakukannya perbaikan pembelajaran. Pemilihan jenjang kelas V, VIII dan XI dimaksudkan agar siswa yang menjadi peserta Asesmen Nasional dapat merasakan perbaikan pembelajaran ketika mereka masih berada di sekolah tersebut. Selain itu, Asesmen Nasional juga digunakan untuk memotret dampak dari proses pembelajaran di setiap satuan pendidikan. Murid kelas V,VIII, dan XI telah mengalami proses pembelajaran di sekolahnya, sehingga sekolah dapat dikatakan telah berkontribusi pada hasil belajar yang diukur dalam Asesmen Nasional.

    Asesmen Nasional juga akan diikuti oleh semua guru dan kepala sekolah di setiap satuan pendidikan. Informasi dari peserta didik, guru, dan kepala sekolah diharapkan memberi informasi yang lengkap tentang kualitas proses dan hasil belajar di setiap satuan pendidikan. Sementara Asesmen Kompetensi Minimum untuk pendidikan kesetaraan berfungsi sebagai ujian kesetaraan.


Konsep Asesmen Nasional (Materi, Pernyataan dan Referensi Jawaban)

 

Materi pada Konsep Asesmen Nasional  meliputi: PengantarTujuan dan Manfaat Asesmen NasionalEvaluasi Ujian NasionalMembandingkan Asesmen Nasional dengan Ujian NasionalKuis Konsep Asesmen NasionalKuis Konsep Asesmen NasionalPerayaan Belajar dan Refleksi Topik 1: Konsep AN, dan Refleksi Topik 1: Konsep AN.
 

Pengantar Konsep Asesmen Nasional

Asesmen Nasional adalah program penilaian terhadap mutu setiap sekolah, madrasah, dan program kesetaraan pada jenjang dasar dan menengah.

Mutu satuan pendidikan dinilai berdasarkan hasil belajar siswa yang mendasar (literasi, numerasi, dan karakter) serta kualitas proses belajar-mengajar dan iklim satuan pendidikan yang mendukung pembelajaran.

Informasi-informasi tersebut diperoleh dari tiga instrumen utama, yaitu Asesmen Kompetensi Minimum (AKM), Survei Karakter, dan Survei Lingkungan Belajar.

Berikut ini penjelasan dari tiga instrumen utama dari Asesmen Nasional, antara lain:
  1. Asesmen Kompetensi Minimum (AKM) yang mengukur kompetensi mendasar literasi membaca dan numerasi siswa. 
  2. Survei Karakter yang mengukur sikap, nilai, keyakinan, dan kebiasaan yang mencerminkan karakter siswa
  3. Survei Lingkungan Belajar yang mengukur kualitas berbagai aspek input dan proses belajar-mengajar di kelas maupun di tingkat sekolah.
Seiring disosialisasikannya Asesmen Nasional, telah banyak respons yang disampaikan terkait konsep dan pelaksanaannya. Siswa, orangtua, guru, bahkan kepala sekolah mulai gelisah terkait penghapusan Ujian Nasional dan pemberlakuan Asesmen Nasional.

Untuk menghindari hal itu, pemahaman yang utuh dan menyeluruh mengenai Asesmen Nasional pun perlu terus disebarluaskan.

Tujuan dan Manfaat Asesmen Nasional

Perubahan sistem evaluasi dari Ujian Nasional ke Asesmen Nasional merupakan upaya untuk memperbaiki kualitas pendidikan secara menyeluruh.

Tujuan Asesmen Nasional
Asesmen Nasional dirancang untuk menghasilkan informasi akurat untuk memperbaiki kualitas belajar-mengajar, yang pada gilirannya akan meningkatkan hasil belajar siswa. 
  1. Asesmen Nasional menghasilkan informasi untuk memantau: (a) perkembangan mutu dari waktu ke waktu, dan (b) kesenjangan antar bagian di dalam sistem pendidikan (misalnya di satuan pendidikan: antara kelompok sosial ekonomi, di satuan wilayah antara sekolah negeri dan swasta, antar daerah, ataupun antar kelompok berdasarkan atribut tertentu). 
  2. Asesmen Nasional bertujuan untuk menunjukkan apa yang seharusnya menjadi tujuan utama sekolah, yakni pengembangan kompetensi dan karakter siswa. 
  3. Asesmen Nasional juga memberi gambaran tentang karakteristik esensial sebuah sekolah yang efektif untuk mencapai tujuan utama tersebut. Hal ini diharapkan dapat mendorong sekolah dan Dinas Pendidikan untuk memfokuskan sumber daya pada perbaikan mutu pembelajaran.
Manfaat Asesmen Nasional
  1. Potret kualitas pembelajaran di sekolah atau daerah.
  2. Umpan balik peningkatan kualitas pembelajaran di sekolah atau daerah.
  3. Dasar untuk penyusunan program peningkatan kualitas pembelajaran di sekolah atau daerah.
Maka dari itu, hasil Asesmen Nasional sendiri diharapkan mampu memberikan manfaat, bukan sekedar nilai belaka. Pada tahun 2021, Mendikbud telah menyatakan bahwa hasil Asesmen Nasional dimaksudkan sebagai peta awal mutu sistem pendidikan secara nasional. Asesmen Nasional tidak akan digunakan untuk mengevaluasi kinerja sekolah maupun daerah.

Evaluasi Ujian Nasional

Kebijakan pelaksanaan Asesmen Nasional juga berangkat dari evaluasi yang dilakukan terhadap Ujian Nasional yang telah berlangsung selama ini. Ujian Nasional menjadi lebih berorientasi pada pencapaian hasil belajar individu dan pembelajaran yang berorientasi pada ujian. Sasaran kompetensi yang diharapkan sebagai perbaikan mutu pendidikan sendiri seringkali terabaikan. Selain itu, beberapa poin evaluasi berikut ini juga menjadi pertimbangan untuk menghentikan pelaksanaan Ujian Nasional dan menetapkan penyelenggaraan Asesmen Nasional. 

Pertama, Butir-butir soal UN hanya mengukur kemampuan kognitif siswa, sehingga input dan proses pembelajaran kurang dapat tergambarkan dengan baik. Hal ini belum sejalan dengan tujuan pendidikan yang ingin mengembangkan kemampuan berpikir tingkat tinggi serta kompetensi lain yang relevan dengan Abad 21, sebagaimana tercermin pada Kurikulum 2013. Harapan untuk mengevaluasi keterampilan siswa dalam menerapkan pengetahuan serta konsep melalui berbagai konteks kehidupan, serta menunjukan karakter sebagaimana yang diharapkan dalam profil pelajar pancasila belum lengkap dilakukan melalui UN saja.

Kedua, UN kurang dapat dimanfaatkan guru untuk memperbaiki pembelajaran pada subjek siswa yang sama. Asesmen Nasional dirancang untuk memberi dorongan lebih kuat ke arah pengajaran yang inovatif dan berorientasi pada pengembangan kompetensi, termasuk di dalamnya kemampuan bernalar.

Ketiga, UN kurang optimal sebagai alat untuk mengevaluasi mutu pendidikan secara nasional. Hal ini disebabkan UN diterapkan di akhir jenjang pendidikan lebih sebagai assessment of learning yang mengukur capaian akhir, bukan sebagai sebagai assessment for learning, yang mengukur proses pembelajaran. Hasil UN tidak bisa digunakan untuk mengakomodir kebutuhan belajar yang diperlukan siswa. 

Pemberlakuan Asesmen Nasional ini merupakan sinyalemen yang kuat dari pemerintah untuk terus memperbaiki sistem pendidikan di Indonesia. Dan dari ketiga poin tersebut, maka sesungguhnya yang perlu dipersiapkan untuk menghadapi Asesmen Nasional adalah pemahaman mengenai tujuan dan manfaat Asesmen Nasional, serta implikasinya pada perubahan praktik dan strategi pembelajaran di kelas. Siswa, guru, orangtua, kepala satuan pendidikan tidak lagi direkomendasikan untuk berlatih soal-soal persiapan AKM sebagaimana penilaian yang berbasis ujian.

Membandingkan Asesmen Nasional dengan Ujian Nasional

Berikut ini Perbandingan antara Asesmen Nasional dengan Ujian Nasional.

Berikut penjelasan dari Perbandingan antara Asesmen Nasional dengan Ujian Nasional:
  1. Tujuan penyelenggaraan Asesmen Nasional dan Ujian Nasional tidak sama. Seperti yang telah dijelaskan sebelumnya, Asesmen Nasional bertujuan untuk mengevaluasi mutu sistem pendidikan di Indonesia, sedangkan Ujian Nasional bertujuan untuk mengevaluasi capaian hasil belajar siswa secara individu. 
  2. AN diberlakukan untuk semua jenjang pendidikan dasar, pendidikan menengah pertama, dan pendidikan menengah atas. Ini termasuk MI, MTS dan MAN, serta program kesetaraan. Sementara UN pada Sekolah Dasar tidak diwajibkan, tetapi lebih mengarah pada Ujian Sekolah Berstandar Nasional.
  3. Asesmen Nasional tidak diselenggarakan pada akhir jenjang pendidikan sebagaimana Ujian Nasional, melainkan di tengah jenjang pendidikan. Yaitu pada kelas 5, 8, 11. Hal ini dilakukan untuk mendorong guru dan sekolah melakukan tindak lanjut perbaikan mutu pembelajaran setelah mendapatkan hasil laporan AN. Jadi bukan sekedar untuk mengetahui capaian hasil belajar siswa sebagai salah satu syarat kelulusan.
  4. Pada pelaksanaannya, Asesmen Nasional menggunakan metode survei. Metode survei dilakukan dengan mengambil sampel siswa diambil secara acak dari setiap sekolah. Berbanding terbalik dengan Ujian Nasional yang menggunakan metode sensus dimana semua siswa di seluruh Indonesia wajib mengikutinya.
  5. Model soal asesmen yang diberikan dalam AN lebih bervariasi bukan sekedar pilihan ganda dan uraian singkat sebagaimana yang diberikan dalam UN.
  6. Salah satu komponen hasil belajar murid yang diukur pada asesmen nasional adalah literasi membaca dan numerasi. Asesmen ini disebut sebagai Asesmen Kompetensi Minimum (AKM) karena mengukur kompetensi mendasar atau minimum yang diperlukan individu untuk dapat hidup secara produktif di masyarakat. Sementara Ujian Nasional berbasis mata pelajaran yang memotret hasil belajar murid pada mata pelajaran tertentu. Hal inilah yang terkadang memberi kesan mata pelajaran yang penting dan kurang penting dalam pendidikan. Dalam hal ini, AKM memotret kompetensi mendasar yang diperlukan untuk sukses pada berbagai mata pelajaran. 
  7. Metode penilaian AN dan UN pun berbeda meskipun keduanya berbasis komputer. AN menggunakan metode penilaian Computerized Multistage Adaptive Testing (MSAT). MSAT ialah metode penilaian yang mengadopsi tes adaptif, dimana setiap siswa dapat melakukan tes sesuai level kompetensinya.
Bapak dan Ibu telah membandingkan Asesmen Nasional dan Ujian Nasional. Sebagai tanggapan atas pemberlakuan Asesmen Nasional, berbagai respons pun muncul dari sejumlah pihak mengenai kebijakan ini. Apakah kebijakan ini hanya sekedar penggantian nama semata? Menurut Anda, apakah Asesmen Nasional merupakan pengganti Ujian Nasional?

Benar. Asesmen Nasional bukan pengganti Ujian Nasional. Selain dari teknis pelaksanaannya, cakupan Asesmen Nasional berbeda jika dibandingkan dengan Ujian Nasional. Asesmen Nasional lebih memberikan gambaran yang lebih utuh dan luas mengenai mutu pendidikan, bukan hanya secara kognitif, namun juga karakter dan iklim belajar.

Pernyataan dan Referensi Jawaban Kuis Konsep Asesmen Nasional

Berikut ini Kuis Konsep Asesmen Nasional berupa pernyataan. Bapak Ibu Guru peserta bimtek dapat mengukur sejauh mana pemahaman dalam menguasai materi-materi diatas.

Terdapat beberapa pernyataan mengenai konsep Asesmen Nasional. Setiap pernyataan tersebut, silahkan Anda cek kesesuaiannya dengan memilih benar atau salah.

Berikut Pernyataan dan Referensi Jawaban Kuis Konsep Asesmen Nasional


Pilih pernyataan dan berikan tanggapan benar atau salah.
  1. Asesmen Nasional tidak memiliki konsekuensi pada kelulusan siswa.
    👍Benar
    Salah
  2. Asesmen Nasional dapat dikatakan sebagai pengganti Ujian Nasional karena keduanya merupakan asesmen berskala nasional yang dibutuhkan siswa untuk menentukan kelulusan.
    Benar
    👍Salah
  3. Asesmen Nasional menekankan pada penguasaan kompetensi siswa, sedangkan Ujian Nasional menekankan pada penguasaan konten pembelajaran siswa.
    👍Benar
    Salah
  4. Asesmen Nasional lebih menekankan aspek kognitif yang dilihat melalui asesmen kompetensi mendasar literasi membaca dan numerasi.
    Benar
    👍Salah
  5. Pada pelaksanaannya, Asesmen Nasional menggunakan metode sensus sedangkan Ujian Nasional menggunakan metode survei.
    Benar
    👍Salah
  6. Sekolah A mempersiapkan siswanya untuk siap mengikuti Asesmen Nasional dengan melakukan perubahan strategi pembelajaran literasi membaca dan numerasi, sehingga mampu melakukan penalaran terkait berbagai mata pelajaran.
    👍Benar
    Salah
  7. Siswa Pak Budi beranggapan bahwa dengan dihapuskannya UN maka siswanya tidak akan semangat belajar karena kurangnya motivasi untuk mencapai nilai tertinggi.
    Benar
    👍Salah
  8. Asesmen Nasional bertujuan untuk mengevaluasi sistem pendidikan bukan mengevaluasi hasil belajar siswa.
    👍Benar
    Salah
  9. Melihat dari tujuan, manfaat, dan teknis pelaksanaannya, Asesmen Nasional tidak sama dengan Ujian Nasional, sehingga tidak tepat untuk menyebutnya sebagai pengganti UN.
    👍Benar
    Salah
  10. Asesmen Nasional bertujuan untuk mengukur kompetensi mendasar yang diperlukan siswa dalam menghadapi persoalan di kehidupan.
    👍Benar
    Salah

Perayaan Belajar dan Refleksi Topik 1: Konsep AN

Topik materi selanjutnya untuk Konsep Asesmen Nasional  yaitu Perayaan Belajar dan Refleksi Topik 1: Konsep Asesmen Nasional (AN).

Itu berarti Bapak atau Ibu sudah melaksanakan dan menyelasikan Kuis konsep Asesmen Nasional sebelumnya.

Pada tahap Refleksi Topik 1: Konsep Asesmen Nasional (AN) ini, Bapak atau Ibu Peserta diminta untuk memberikan tanggapan berupa tulisan dari beberapa pertanyaan untuk di isikan pada kolom yang sudah disediakan.

Pertanyaan dan Referensi Tanggapan Refleksi Topik 1: Konsep AN

Berikut ini pertanyaan dan referensi tanggapan pada tahap Refleksi Topik 1: Konsep Asesmen Nasional (AN).
  • Pertanyaan:
    Menurut Anda, apa informasi penting yang Anda peroleh setelah mempelajari materi pada topik konsep Asesmen Nasional?
  • Referensi Tanggapan:
    Asesmen Nasional merupakan program penilaian terhadap mutu setiap sekolah, madrasah, dan program kesetaraan pada jenjang dasar dan menengah.

    Mutu satuan pendidikan dinilai berdasarkan hasil belajar siswa yang mendasar (literasi, numerasi, dan karakter) serta kualitas proses belajar-mengajar dan iklim satuan pendidikan yang mendukung pembelajaran.

    Asesmen Nasional dirancang untuk menghasilkan informasi akurat untuk memperbaiki kualitas belajar-mengajar, yang pada gilirannya akan meningkatkan hasil belajar siswa.

Jika Bapak dan Ibu Peserta sudah menyelesaikan tahapan-tahapan diatas, maka untuk tahap selanjutnya bapak atau ibu peserta akan diarahkan mengikuti Teknis Pelaksanaan Asesmen Nasional.

Senin, 08 Februari 2021

Orientasi Guru Belajar Seri Asesmen Kompetensi Minimum (Materi, Soal, dan Referensi Jawaban)


Latar Belakang dan Kebijakan Asesmen Nasional

Apa itu PISA?
PISA atau Programme for International Student Assessment adalah studi internasional tentang prestasi literasi membaca, matematika, dan sains siswa sekolah berusia 15 tahun

Hasil PISA atau Programme for International Student Assessment membuktikan bahwa kemampuan belajar siswa pada pendidikan dasar dan menengah kurang memadai.

Di tahun 2018, sekitar 70% dari sekian siswa memiliki kompetensi literasi membaca di bawah minimum. Sama halnya dengan keterampilan matematika dan sains, 71% siswa berada di bawah kompetensi minimum untuk matematika dan 60% siswa di bawah kompetensi minimum untuk keterampilan sains.

Skor PISA Indonesia stagnan (terhenti) dalam 10-15 tahun terakhir. Kondisi inilah yang menyebabkan Indonesia menjadi salah satu negara yang konsisten dengan peringkat hasil PISA yang terendah. 

Menanggapi kondisi tersebut, reformasi asesmen diperlukan guna mendorong peningkatan kualitas pembelajaran. Pemetaan mutu pendidikan secara menyeluruh dibutuhkan.

Untuk itu pada tahun 2021 mendatang, Asesmen Nasional (AN) akan resmi diterapkan oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan dan Ujian Nasional (UN) sudah tidak lagi diberlakukan. Kebijakan ini ditetapkan berdasarkan hasil koordinasi Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan dengan sejumlah dinas dan lembaga terkait.

Dalam hal ini, AN (Asesmen Nasional) diterapkan untuk mengevaluasi kinerja dan mutu sistem pendidikan. Nantinya, hasil Asesmen Nasional tidak memiliki konsekuensi apapun pada pencapaian proses belajar siswa namun memberikan umpan balik untuk tindak lanjut pembelajaran dan kompetensi siswa.

Pentingnya Asesmen Nasional

Asesmen Nasional perlu dilakukan untuk meningkatkan mutu pendidikan.
Pertanyaannya:
  1. Mutu pendidikan seperti apa yang diharapkan?
  2. Apakah mutu pendidikan dapat dilihat dari hasil Ujian Nasional saja seperti yang selama ini terjadi?

Peningkatan mutu sistem pendidikan tidak hanya berorientasi pada pencapaian siswa dalam menguasai materi pelajaran dan nilai ujian akhir, apapun sebutannya.

Keberhasilan sistem pendidikan lebih difokuskan pada pencapaian kompetensi siswa yang meliputi pengetahuan, keterampilan dan sikap.

Terlebih pada era transformasi pendidikan abad ke-21, dimana arus perubahan menuntut siswa menguasai berbagai kecakapan hidup yang esensial untuk menghadapi berbagai tantangan abad ke-21 dimana siswa memiliki kecakapan belajar dan berinovasi, kecakapan menggunakan teknologi informasi, kecakapan hidup untuk bekerja dan berkontribusi pada masyarakat.

Bagaimana cara mengukur kompetensi tersebut? Ya, menggunakan Asesmen Nasional.
Asesmen Nasional diberlakukan sebagai alat ukur untuk mengetahui ketercapaian kompetensi yang harus dikuasai siswa.

Asesmen Nasional tidak hanya memotret hasil belajar kognitif siswa, sebagaimana yang terjadi dalam Ujian Nasional namun juga memotret hasil belajar sosial emosional. Termasuk di dalamnya sikap, nilai, keyakinan, serta perilaku yang dapat memprediksi tindakan dan kinerja siswa di berbagai konteks yang relevan. 

Selain tuntutan kecakapan abad 21, profil pelajar Pancasila juga menjadi rujukan pencapaian karakter bagi seluruh siswa di Indonesia. Bahkan profil pelajar pancasila ini sudah merangkum serangkaian kecakapan hidup abad 21. Karakter pelajar Pancasila yang ingin dicapai oleh siswa yaitu:
  1. Beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa serta berakhlak mulia.
  2. Berkebhinekaan global
  3. Mandiri
  4. Bernalar kritis 
  5. Kreatif
  6. Gotong royong

Untuk itu, penting bagi guru dan siswa untuk mengadopsi proses pembelajaran yang berfokus pada pengembangan kompetensi. Pencapaian kompetensi siswa dapat diukur dari pemahaman konsep, dan keterampilan menerapkan konsep dalam berbagai konteks. Dengan demikian, siswa tidak hanya menguasai konten semata, tetapi lebih menguasai pemahaman secara mendalam terhadap konsep yang dapat diterapkan di berbagai konteks kehidupan. Hal ini yang diharapkan sebagai peningkatan hasil pembelajaran siswa. Capaian kompetensi siswa secara holistik inilah yang ingin dievaluasi melalui Asesmen Nasional.

Refleksi Orientasi

Sebelum melanjutkan ke tahapan Bimtek, mari merefleksikan apa yang telah Anda pelajari. Silakan Anda memulai kuis refleksi yang telah tersedia.

Soal
Menurut Anda, apa informasi penting yang Anda peroleh setelah mempelajari materi pada topik orientasi program? Apa harapan Anda mengenai Asesmen Nasional?
 

Referensi Jawaban Orientasi Guru Belajar Seri Asesmen Kompetensi Minimum

 
Berdasarkan soal diatas, berikut ini Referensi Jawaban Orientasi Guru Belajar Seri Asesmen Kompetensi Minimum  yang nantinya dapat dituliskan pada kolom Refleksi Orientasi.

  1. AN (Asesmen Nasional) diterapkan untuk mengevaluasi kinerja dan mutu sistem pendidikan. Nantinya, hasil Asesmen Nasional dilaksanakan agar dapat memberikan umpan balik untuk tindak lanjut pembelajaran dan kompetensi siswa.
  2. Agar pencapaian kompetensi siswa dapat diukur dari pemahaman konsep, dan keterampilan dengan menerapkan konsep dalam berbagai konteks. Sehingga, siswa tidak hanya menguasai konten semata, tetapi lebih menguasai pemahaman secara mendalam terhadap konsep yang dapat diterapkan di berbagai konteks kehidupan.
Jika referensi jawaban di atas menurut peserta dianggap sesuai, silahkan copy dan paste pada kolom Refleksi Orientasi. Tekan Finish Quiz untuk melanjutkan, klik Tandai Telah Selesai agar dapat ke tahap selanjutnya, yaitu: Pengantar Program Bimtek Guru Belajar Seri Asesmen Kompetensi Minimum.